Pelajar Sepakat Stop Kekerasan

November 23, 2008
Banjarmasin Post, Indonesia

“Perbedaan tidak mesti diselesaikan dengan kekerasan, seperti yang sering terjadi sekarang,” kata Indro Suprapto, pelajar Banjarmasin di Gedung Sultan Suriansyah, disambut tepuk tangan pelajar dan mahasiswa Surabaya di gedung BK3S Covention Center, Surabaya.

Untuk itu, dia berharap, ke depan ada organisasi yang mampu meredam berbagai aksi kekerasan yang diakibatkan tidak biasanya umat Islam menerima perbedaan yang ada, bahkan sesama muslim.

“Muslim yang gemar melakukan kekerasan dalam menyelesaikan masalah itu muslim yang tidak menghargai perbedaan,” tanggap Yasin, pelajar Surabaya.

Perbincangan antara pelajar dan mahasiswa itu dilakukan di dua tempat berbeda, Banjarmasin dan Surabaya dengan cara teleconference. Sabtu (22/11)

Kegiatan tersebut diselenggarakan Peacetech Indonesia bekerjasama dengan LK3 Banjarmasin, The Wahid Institute, dan YLA Jawa Timur. Mereka bertatap muka menggunakan dua layar lebar layaknya bioskop.

Acara yang bertjuan menjalin komunikasi antara pelajar dua daerah tersebut, di Banjarmasin dipandu oleh Agus Idwar (Vokalis group Nasid Snada), dan di Surabaya dipandu Cici Tegal (Komedian).

Hadir pula beberapa tokoh kontroversial seperti Irfan Awwas dari Majelis Mujahidin Indonesia dan penulis novel kontroversial Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur, Muhidin M. Dahlan di Surabaya.

Sedangkan di Banjarmasin dihadirkan mantan Panglima Jama’ah Islamiyah, Nasir Abas, dan Dr. Husnul Yakin Med dari IAIN Antasari Banjarmasin.

Menurut Nasir, kekerasan yang ditimbulkan kelompok muslim seperti Amrozi Cs lantaran mereka sudah terbiasai seperti berperang di Afganistan dan membela bangsa Moro di Mindanao, Filipina.

Padahal, lanjut pria yang enam tahun ikut berjuang bersama tentara Mujahidin Afganistan ini, Indonesia hakekatnya berbeda dengan saat ketika mereka berada di kedua negara tersebut.

Ditambahkan Muhidin, Muslim Indonesia belum bisa menerima perbedaan pendapat yang ada di kalangan umat Islam itu sendiri.

”Sepeti saya menulis novel Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur langsung ditanggapi ancaman oleh beberapa pihak. Padahal, cerita dalam novel itu adalah sebuah realita yang ada di negeri ini,” Jelasnya.

Untuk itu lanjutnya, Muslim Indonesia harus belajar menghormati perbedaan yang ada baik di kalangan muslim sendiri maupun antar umat beragama.

Dalam kegiatan yang berlangsung hampir empat jam tersebut, baik pelajar dan mahasiswa Muslim Banjarmasin dan Surabaya sepakat menghentikan kekerasan sebagai salah satu cara menanggapi perbedaan. (dd)